Paralel Yang Menarik

21 05 2010

PARALEL YANG MENARIK DARI AGAMA-AGAMA DI DUNIA

Agama Zarathustra (Zoroasther) dibawa oleh Zarathustra (660-583 SM), yang semula tumbuh di wilayah Azarbaijan, sebelah utara Iran. Kelahiran Zarathustra kira-kira pada tahun 660 SM, yang konon telah dinubuatkan sejak 3.000 tahun sebelumnya. Ia lahir dari Dughdova, seorang gadis yang masih perawan, yang belum pernah dijamah suaminya, Porushop Spitama. Kemudian dikisahkan, kelahiran Zarathustra membuat Durashan, Kepala Kaum Majus, menjadi marah karena diramalkan bayi itu bakal menghancurkan agama Majusi dan kaum Majus dari permukaan bumi. Sehingga Durashan mengirimkan Tiga Orang Majus untuk mencari dan memusnahkan bayi itu, namun tak berhasil.

Kitab sucinya bernama ‘Avesta’, berasal dari akar kata Avistak, yang bermakna Bacaan. Kitab Yasna merupakan salah satu bagian dari Avesta. Dalam kitab Yasna terdapat Pengakuan Iman (Syahadat), yang berbunyi: “Saya mengaku diriku penyembah Mazda, pengikut Zarathustra, yang membenci daevas dan mentaati Hukum Ahura.” (Daevas, akar katanya ‘diu’, Yunani: ‘diabolos’, Inggris: ‘devil’). Dan pada bagian Gatha dalam kitab Yasna dijumpai bait berbunyi: “Dari Dia, alam semesta berasal. Rohnya yang membimbing adalah Rohulkudus.”

Ahura Mazda adalah Kodrat Maha Tunggal dan Maha Bijaksana. Dalam kitab suci Avesta terdapat 101 buah Nama Terbaik dari Ahura Mazda. Sementara dalam pasal pertama kitab Yasht, salah satu kitab dari Avesta, dijumpai daftar tentang 20 sifat dari Ahura Mazda, dan diwahyukan kepada Zarathustra dengan pesan: “Berzikirlah dengan NamaKu ini setiap hari dan setiap malam.”

Kitab suci Avesta juga mengajarkan tentang Hari Kebangkitan dan Pengadilan Terakhir. Pada pengadilan terakhir itu harus melalui suatu titi-ujian yang disebut ‘Civanto Peretu’, di bawahnya terdapat arus gelombang dari cairan logam yang menyala-nyala. Titi-ujian itu lebih halus dari rambut dibelah tujuh. Bagi yang berbuat kebajikan akan beroleh hidup kekal dan bahagia di dalam ‘Paridaeza’, sementara yang berdosa dan menyangkal Ahura Mazda akan berada kekal di ‘Gehannama’, menderita siksaan yang tiada tara.  1)

Keyakinan tersebut rupanya ada paralelisasinya dengan agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Menarik bukan?

YHWH merupakan nama Allah bagi bangsa Israel. Nama yang terdiri dari 4 huruf mati tersebut dipandang suci oleh bangsa Israel, sehingga mereka sangat hati-hati dalam menggunakan nama Allah tersebut. Pada perkembangan selanjutnya Nama tersebut diberi huruf hidup menjadi Yahweh dan Yahuwa. Umat Muslim sedunia jika saat wiridan akan menyebut Nama itu dengan sebutan Yaa-Huu. Sebutan itu adalah singkatan dari bunyi: ‘Ya Huwa’.

Dalam dunia Islam dikenal dengan istilah Takbiran dengan mengucapkan: Allahu Akbar, sementara dalam masyarakat Yahudi dikenal dengan istilah Tahmidan dengan mengucapkan: Halleluyah. Tahmidan yang berbunyi Halleluyah itu oleh masyarakat Islam disebutkan dengan Allahu’l-‘Ulya. Kedua sebutan itu sama-sama bermakna: Allah Maha Tinggi. 2)

Sementara itu, almarhum KH Abdurrahman Wahid mengatakan bahwa, Pesantren adalah sebuah kehidupan yang unik, dan sebuah kompleks dengan lokasi yang umumnya terpisah dari kehidupan di sekitarnya. Di dalamnya terdapat rumah kediaman pengasuh (di daerah berbahasa Jawa disebut Kyai, di Sunda Ajengan, di Madura disebut Nun atau Bendara, disingkat Ra); ada sebuah surau atau mesjid; tempat pengajaran (Arab: Madrasah); ada juga asrama untuk para siswa pesantren (disebut Santri, pengambilan alih dari bahasa Sansekerta dengan perubahan pengertian).

Sementara Suyoto menulis, Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan penyebaran agama Islam lahir dan berkembang semenjak masa-masa permulaan kedatangan Islam di negri kita. Lembaga seperti ini sudah ada jauh sebelum kedatangan Islam itu sendiri. Perguruan berasrama ini merupakan lembaga tempat mendalami agama Hindu dan Buddha. Bedanya, pada yang kedua hanya didatangi anak-anak golongan aristokrat, sedang pada yang pertama dikunjungi oleh segenap lapisan masyarakat, khususnya rakyat jelata.  3)

1) Joesoef Sou’yb, ‘Agama-agama Besar di Dunia’ (PT Al Husna Zikra-Jakarta, 1996), hl. 220-266.

2) ‘Ibid’, hl. 276-277.

3) Abdurrahman Wahid, Suyoto, M Habib Chirzin, Nurcholish Madjid, M Saleh Widodo, Ali Saifullah HA, Edwar, ‘Pesantren dan Pembaharuan’ (LP3ES-Jakarta, 1974), hl. 40 dan 65.


Aksi

Information




%d blogger menyukai ini: