Diklat PPAT

3 06 2010

MASIH PERLUKAH DIKLAT PPAT : Pilih Notaris atau PPAT

Di tengah suka cita pengumuman kelulusan ujian PPAT, mari kita sejenak melepas lelah sambil merenung beberapa hal tentang diklat dan ujian PPAT. Beberapa waktu yang lalu sempat beredar isu bahwa diklat bagi calon PPAT tidak lagi 3-4 hari, tetapi rencananya memakan waktu beberapa bulan dan tanpa ujian. Isu ini sempat meresahkan calon PPAT, karena kalau memang isu itu benar, maka bagaimana jika calon PPAT tersebut statusnya adalah karyawan dan/atau telah menikah? Apakah ia harus keluar dari pekerjaannya dan meninggalkan keluarganya beberapa bulan?

Untuk mengetahui isu itu benar atau tidak, mari kita mengamati beberapa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan diklat dan ujian PPAT. Dalam hal ini kita mulai saja dari Pasal 6 huruf g Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998, yang berbunyi :

“Syarat untuk dapat diangkat menjadi PPAT adalah :

g). lulus ujian yang diselenggarakan oleh Kantor Menteri Negara Agraria/Badan Pertanahan Nasional.

Kemudian Pasal 11 ayat (2) Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 1 Tahun 2006, yang berbunyi sebagai berikut :

(2) Untuk dapat diangkat sebagai PPAT, yang bersangkutan harus lulus ujian PPAT yang diselenggarakan oleh Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia.

Sementara Pasal 12 ayat (1) PerKaBPN No. 1 Tahun 2006 mengatakan, bahwa :

(1) Sebelum mengikuti ujian PPAT, yang bersangkutan wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan PPAT yang diselenggarakan oleh Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia yang penyelenggaraannya dapat bekerja sama dengan organisasi profesi PPAT.

Dari pasal-pasal tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa calon PPAT harus mengikuti Diklat (pendidikan dan pelatihan) PPAT serta harus mengikuti ujian PPAT. Namun semangat ini ‘dibuyarkan’ oleh Peraturan Kepala BPN-RI No. 23 Tahun 2009 yang menghapus Pasal 12 ayat (1) dan ayat (2), sehingga untuk mengikuti ujian dan pengangkatan PPAT tidak dipersyaratkan mengikuti Diklat PPAT (Diklat PPAT dihapus).

Ada apa di balik maksud dari PerKaBPN No. 23/2009 tersebut.? Padahal peraturan yang menentukan bahwa calon PPAT harus mengikuti Diklat dahulu sebelum mengikuti ujian PPAT notabene adalah peraturan produk BPN sendiri (lihat Pasal 12 ayat (1) PerKaBPN No. 1/2006 di atas).

Untuk menarik benang merah, mari kita mengamati Lampiran Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 2010 tentang PNBP Yang Berlaku Pada BPN. Pada urutan No. V kelompok Pelayanan Pendidikan, terdapat huruf E tentang Program Pendidikan Khusus Pejabat Pembuat Akta Tanah. Di situ telah diperinci lengkap masalah pendaftaran, penyelenggaraan pendidikan, ujian, wisuda, sampai dengan perincian biaya-biayanya. Artinya di sini, bahwa BPN memang sudah menyusun program tentang Pendidikan Khusus PPAT. Menurut Pasal 13 PerKaBPN No. 1/2006, Diklat itu ada dua macam, yaitu Pertama dan Khusus. Namun Pasal 13 tersebut telah dihapus oleh PerKaBPN No. 23/2009. Bahkan, Pasal 14 huruf b dan Pasal 15 ayat (2) huruf e PerKaBPN No. 1/2006 yang mengatur tentang Pendidikan dan Pelatihan Pertama juga dinyatakan hapus oleh PerKaBPN No. 23/2009. Artinya, bahwa memang ada rencana yang mengarah pada Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Khusus PPAT, sekaligus menghapus Diklat tingkat Pertama. Sehingga ‘klop’ dengan ketentuan yang disebut pada Lampiran PP No. 13/2010.

Justru itu, tidaklah heran jika dalam Pengumuman Kepala BPN No. 4704/Peng-100/XI/2009 tertanggal 13 November 2009, dinyatakan dengan tegas bahwa untuk mengikuti ujian dan pengangkatan PPAT tidak dipersyaratkan mengikuti Diklat PPAT (Diklat PPAT dihapus). Sesuai dengan konteksnya, tentunya yang dihapus adalah Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pertama.

Pada beberapa waktu yang lalu, Joyo Winoto, Kepala BPN-RI, mengatakan bahwa: “… profesi PPAT akan saya pisahkan dari profesi notaris… Dan, nantinya, akan diberi pilihan: memilih sebagai PPAT dengan jalan percepatan bagi rakyatnya, atau memilih sebagai Notaris.” (RENVOI Nomor: 4.76.VII, tertanggal 03 September 2009, hal. 9).

Nah, apakah kehadiran Program Pendidikan Khusus PPAT tersebut merupakan perwujudan dari pernyataan Joyo Winoto tersebut.? Kalau memang benar, maka jabatan PPAT akan terpisah dari jabatan Notaris (pilih salah satu). Namun semangat pemisahan itu seharusnya dibarengi oleh perubahan atas persyaratan untuk dapat mengikuti ujian dan diangkat sebagai PPAT. Karena selama ini dan masih diakui oleh PerKaBPN No. 23/2009, bahwa salah satu syarat untuk dapat mengikuti ujian dan diangkat sebagai PPAT adalah: “lulusan pendidikan Spesialis Notariat atau Magister Kenotariatan” (lihat Pasal 14 huruf d dan Pasal 15 ayat (2) huruf g PerKaBPN No. 23/2009). Ini artinya kan masih juga bergantung kepada Program Kenotariatan. Semangat memisahkan diri itu tentunya dibarengi oleh prinsip diri sendiri. Artinya harus punya ‘basic’ sendiri sebagai syarat untuk dapat mengikuti ujian dan diangkat sebagai PPAT. Nah, apakah Program Pendidikan Khusus PPAT ini menjadi ‘basic’ sebagai syarat untuk dapat mengikuti ujian dan diangkat sebagai PPAT menggantikan ‘basic’ Kenotariatan.? Nampaknya ini mulai tercermin sejak PerKaBPN No. 1/2006 dan PerKaBPN No. 23/2009. Misalnya saja Pasal 14 huruf d PerKaBPN No. 23/2009, mengatakan bahwa ‘untuk dapat mengikuti ujian PPAT, peserta wajib melampirkan fotocopy ijazah S1 dan Program Pendidikan Khusus PPAT yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan tinggi, atau ijazah Program Pendidikan Spesialis Notariat atau Magister Kenotariatan…’.

Pasal tersebut seakan memberikan peluang bahwa nantinya lembaga pendidikan tinggi dapat menyelenggarakan Program Pendidikan Khusus PPAT (sebagai saingan Program Magister Kenotariatan). Jika benar demikian, maka upaya pemisahan antara jabatan PPAT dan Notaris sebagaimana dinyatakan oleh Joyo Winoto agaknya akan segera terwujud… Benarkah demikian..? Wallahu’alam…

Salam, denbagusRasjid



Aksi

Information

2 responses

3 06 2010
pembelajaranislami

SIIIP

http://www.pembelajaranislami.wordpress.com

media pembelajaran agama islam berbasis online
FKIP Universitas Pattimuran Ambon

27 06 2010
denbagusrasjid

Terimakasih… Salam kenal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: